Jumat, 15 Oktober 2010

Analisis Multi Tentang Angka Kematian Diare

Fikri Akbar, Pontianak

Mengutip data yang doperoleh dari Medical Record Rumah Sakit Umum Daerah Sudarso, seperti yang telah diterbitkan Borneo Tribune edisi Kamis (30/9) lalu. Yakni tentang data terakhir terkait angka kematian yang cukup fantastis disebabkan oleh penyakit diare selama 2006–2010.

Data itu menyebutkan, kematian yang disebabkan penyakit diare selama kurang lebih 4 tahun pendataan, merajai angka kematian pasien Soedarso, ketimbang angka kematian yang disebabkan oleh penyakit demam berdarah (DBD). Dan data ini sekaligus meruntuhkan logika awam yang berkembang di sebagian masiayarakat selama ini, yang mengatakan, DBD lebih berbahaya dari diare.

Jika kita melihat data di tahun 2006, dari sebanyak 1425 kasus diare menyebabkan kematian 18 jiwa, dan DBD hanya 8 jiwa meninggal dari 679 kasus. Sedangkan untuk tahun 2007, sebanyak 997 kasus diare terdapat sedikitnya 27 orang yang meininggal, dan DBD hanya 3 jiwa meninggal dari 76 kasus. Selanjutnya, di tahun 2008, diare kembali naik dengan 1142 kasus dengan menelan 25 korban jiwa. Dan DBD hanya naik 153 kasus dan 5 jiwa yang meninggal.

Baru di tahun 2009 awal, DBD menuai angka tingginya, dari januari hingga Maret dengan 2794 kasus atau yang disebut dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan merenggut kematian hingga 59 jiwa. Sedangkan untuk diare, tetap bertahan pada 1142 kasus dengan menyisakan 14 jiwa meninggal.

Selanjutnya untuk data tahun 2010, meskipun pendataan dilakukan baru dilakukan sampai bulan September lalu, sudah tercatat 698 kasus penyakit diare dengan kematian berjumlah 11 orang, sedangkan DBD baru merangkak di angka 116 kasus dengan korban 4 jiwa meninggal.

Semenatara itu, dari hasil analsisi Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Multi Juto Bhatarendro, mengungkapkan beberapa faktor yang dapat menyebabkan temuan kasus diare lebih meningkat dibanding DBD. “Pertama, kemungkinan dari ketidaktahuan masyarakat sendiri terhadap gejala penyakit diare, kedua, yang menjadi penyebab penyakit ini (diare) sangat banyak, tidak seperti DBD yang hanya disebabkan nyamuk Aides Aegypti, diantaranya; bisa infeksi, salah makan, tidak mencuci tangan sebelum makan, makanan tidak dimasak ataui direbus dengan baik, dehidrasi tinggi, asupan yang tidak tepat, konsumsi air yang kurang memenuhi standar dan lain sebagainya,” kata Multi saat dihubungi wartawan, Minggu (3/10).

Ketidaktahuan masyarakat dijelaskan Multi, sebagai antisipasi masyarakat yang terkesan terburu-buru dalam mengambil langkah dengan langsung merujuk ke rumah sakit, padahal kata Multi, untuk serangan diare biasa, hanya cukup dapat ditangani sendiri oleh masyarakat dan mudah untuk dilakukan sendiri.

“Ya, saya melihat dari antisipasi yang dilakukan, karena gejala demam juga bisa menyebabkan diare, dehidrasi tinggi, padahal itu bisa ditangai sendiri dengan mudah, misalnya dengan minum obat oralit. Dengan meminum air garam juga dapat membantu, dan lebih bagus datang ke Puskesmas. Tidak sedikit-sedikit langsung ke rumah sakit, sehingga data yang ada di rumkit, ya meningkat,” katanya.

Lebih lanjut, sedangkan untuk angka kematian sendiri yang cukup tinggi, menurut Multi, bukanlah kematian yang diakibatkan oleh murni diare semata, tapi itu lebih disebabkan adanya penyakit atau infeksi lain yang menyertainya. Selebihnya, kata Multi, dari pola hidup kurang bersih masyarakat, disamping juga, ada beberapa dari masyarakat, tambah Multi, yang cenderung meremehkan penyakit diare ini.

“Mencret-mencret dibiarkan, sehingga banyak cairan tubuh yang keluar begitu banyak, karena banyaknya cairan keluar dari dalam tubuh hingga beberapa persen, bisa menyebabkan kematian,” jelasnya.

“Apalagi untuk bayi, bisa disebabkan oleh kurangnya gizi, pola asupan makanan tahun pertamanya, kemudian air susu (botol,red) yang diberikan–mungkin rasio susu dan air tidak seimbang, atau botol susunya yang kurang bersih. Disamping pola penanggulangan yang dilakukan dari orang tua yang lamban. Tidak cepat itu, karena kurang pengetahuan,” paparnya.

Namun demikian, kata Multi diakhir obrolannya dengan wartawan, dirinya mengaku tidak begitu yakin dengan data kematian yang sangat tinggi dari RSUD Soedarso itu, karena menurut Multi, untuk Kota Pontianak sendiri belum pernah menyumbang angka kematian satu jiwapun untuk kasus diare.

“Saya tidak yakin kematiannya begitu tinggi, kalau untuk balita, mungkin saja, tapi di Kota Pontianak, belum ada (yang meninggal,red),” kata Multi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jumat, 15 Oktober 2010

Analisis Multi Tentang Angka Kematian Diare

Fikri Akbar, Pontianak

Mengutip data yang doperoleh dari Medical Record Rumah Sakit Umum Daerah Sudarso, seperti yang telah diterbitkan Borneo Tribune edisi Kamis (30/9) lalu. Yakni tentang data terakhir terkait angka kematian yang cukup fantastis disebabkan oleh penyakit diare selama 2006–2010.

Data itu menyebutkan, kematian yang disebabkan penyakit diare selama kurang lebih 4 tahun pendataan, merajai angka kematian pasien Soedarso, ketimbang angka kematian yang disebabkan oleh penyakit demam berdarah (DBD). Dan data ini sekaligus meruntuhkan logika awam yang berkembang di sebagian masiayarakat selama ini, yang mengatakan, DBD lebih berbahaya dari diare.

Jika kita melihat data di tahun 2006, dari sebanyak 1425 kasus diare menyebabkan kematian 18 jiwa, dan DBD hanya 8 jiwa meninggal dari 679 kasus. Sedangkan untuk tahun 2007, sebanyak 997 kasus diare terdapat sedikitnya 27 orang yang meininggal, dan DBD hanya 3 jiwa meninggal dari 76 kasus. Selanjutnya, di tahun 2008, diare kembali naik dengan 1142 kasus dengan menelan 25 korban jiwa. Dan DBD hanya naik 153 kasus dan 5 jiwa yang meninggal.

Baru di tahun 2009 awal, DBD menuai angka tingginya, dari januari hingga Maret dengan 2794 kasus atau yang disebut dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan merenggut kematian hingga 59 jiwa. Sedangkan untuk diare, tetap bertahan pada 1142 kasus dengan menyisakan 14 jiwa meninggal.

Selanjutnya untuk data tahun 2010, meskipun pendataan dilakukan baru dilakukan sampai bulan September lalu, sudah tercatat 698 kasus penyakit diare dengan kematian berjumlah 11 orang, sedangkan DBD baru merangkak di angka 116 kasus dengan korban 4 jiwa meninggal.

Semenatara itu, dari hasil analsisi Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Multi Juto Bhatarendro, mengungkapkan beberapa faktor yang dapat menyebabkan temuan kasus diare lebih meningkat dibanding DBD. “Pertama, kemungkinan dari ketidaktahuan masyarakat sendiri terhadap gejala penyakit diare, kedua, yang menjadi penyebab penyakit ini (diare) sangat banyak, tidak seperti DBD yang hanya disebabkan nyamuk Aides Aegypti, diantaranya; bisa infeksi, salah makan, tidak mencuci tangan sebelum makan, makanan tidak dimasak ataui direbus dengan baik, dehidrasi tinggi, asupan yang tidak tepat, konsumsi air yang kurang memenuhi standar dan lain sebagainya,” kata Multi saat dihubungi wartawan, Minggu (3/10).

Ketidaktahuan masyarakat dijelaskan Multi, sebagai antisipasi masyarakat yang terkesan terburu-buru dalam mengambil langkah dengan langsung merujuk ke rumah sakit, padahal kata Multi, untuk serangan diare biasa, hanya cukup dapat ditangani sendiri oleh masyarakat dan mudah untuk dilakukan sendiri.

“Ya, saya melihat dari antisipasi yang dilakukan, karena gejala demam juga bisa menyebabkan diare, dehidrasi tinggi, padahal itu bisa ditangai sendiri dengan mudah, misalnya dengan minum obat oralit. Dengan meminum air garam juga dapat membantu, dan lebih bagus datang ke Puskesmas. Tidak sedikit-sedikit langsung ke rumah sakit, sehingga data yang ada di rumkit, ya meningkat,” katanya.

Lebih lanjut, sedangkan untuk angka kematian sendiri yang cukup tinggi, menurut Multi, bukanlah kematian yang diakibatkan oleh murni diare semata, tapi itu lebih disebabkan adanya penyakit atau infeksi lain yang menyertainya. Selebihnya, kata Multi, dari pola hidup kurang bersih masyarakat, disamping juga, ada beberapa dari masyarakat, tambah Multi, yang cenderung meremehkan penyakit diare ini.

“Mencret-mencret dibiarkan, sehingga banyak cairan tubuh yang keluar begitu banyak, karena banyaknya cairan keluar dari dalam tubuh hingga beberapa persen, bisa menyebabkan kematian,” jelasnya.

“Apalagi untuk bayi, bisa disebabkan oleh kurangnya gizi, pola asupan makanan tahun pertamanya, kemudian air susu (botol,red) yang diberikan–mungkin rasio susu dan air tidak seimbang, atau botol susunya yang kurang bersih. Disamping pola penanggulangan yang dilakukan dari orang tua yang lamban. Tidak cepat itu, karena kurang pengetahuan,” paparnya.

Namun demikian, kata Multi diakhir obrolannya dengan wartawan, dirinya mengaku tidak begitu yakin dengan data kematian yang sangat tinggi dari RSUD Soedarso itu, karena menurut Multi, untuk Kota Pontianak sendiri belum pernah menyumbang angka kematian satu jiwapun untuk kasus diare.

“Saya tidak yakin kematiannya begitu tinggi, kalau untuk balita, mungkin saja, tapi di Kota Pontianak, belum ada (yang meninggal,red),” kata Multi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar